16
Jun
11

Conversation in Train Station

Aberyswth Train Station, Wales.

Winter 1996

“Jangan balik please? Saya mati nanti.” Si Bodoh melepas beban di hati. Iris mata cair dengan cinta.

Dada ku sarat.

“Dah nak exam dah ni kan. Kalau saya tak balik awak tak study.” Aku balas. Lemas dalam asmara.

“Okay. Gini. Penting ke semua ni? Ada makna? Tak ada makna kan? Mana ruang untuk saya?” Dia menyoal-balas. Persis pakar litigasi dalam mahkamah.

“Setiap orang juga harus ada ruang sendiri, Ja. Ruang untuk mencari diri. Kalau saya tak belajar, satu hari awak bosan dengan saya macamana?”

“Pernah ke saya bosan? Dari tingkatan empat, sampai sekarang, pernah ke saya bosan dengan awak?”

Aku diam. Peliut wisel keretapi Inggeris bersiul deras memenuhi ketegangan perasaan antara kami.

“Jawab lah, saya tanya ni.” Si Bodoh mendesak lagi.

“Setakat hari ni, sekarang ni, tak pernah lah lagi.” Aku mengalah. Hati disepak-sepak sembilu.

“Jadi?”

“Saya balik lah dulu please?” Akhirnya aku merayu. Kadang-kadang perlu, dia cepat cair dengan tonasi suara lemah dan hilang.

Si Bodoh menjelingkan mata. Tangan terdakap kemas di dada – tanda tak suka.

“Perlu ada ruang tu, Ja. Kalau satu hari awak dah bosan, saya bisa hidup sendiri.” Ku sumbat-sumbat rational di kepala lelaki yang saban malam mengekang lena di mata ini.

“Kalau hari saya bosan dengan awak itu tiba, maknanya – ” He paused for effect.

“Kiamat dah datang.”


0 Respon to “Conversation in Train Station”



  1. Tinggalkan Komen

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.